Pusat Studi Ekonomi, Keuangan, dan Industri Digital (PSEKUIN) UPN “Veteran” Yogyakarta bekerja sama dengan Bank Indonesia Wilayah Kerja Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) melaksanakan kunjungan lapangan (site visit) ke sentra pergaraman di Kabupaten Rote Ndao, NTT. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penguatan pemahaman kondisi riil sektor garam sekaligus mendukung pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN).
Dalam kunjungan tersebut, Tim PSEKUIN bersama Bank Indonesia dan didampingi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Rote Ndao meninjau kelompok petambak garam di Oenggae, Pantai Baru (di luar kawasan K-SIGN) serta masyarakat Desa Matasio, Rote Timur (di dalam kawasan K-SIGN). Kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan produksi, tata niaga, serta kesiapan sosial ekonomi masyarakat dalam menyambut pengembangan industri garam skala nasional.
Di wilayah Oenggae, hasil observasi menunjukkan bahwa permasalahan utama masih berpusat pada aspek produksi, khususnya keterbatasan sistem pengairan air laut yang menjadi kendala krusial dalam proses pembuatan garam. Selain itu, aktivitas produksi petambak masih sangat bergantung pada pendanaan pemerintah. Harga garam krosok yang relatif rendah, berkisar antara Rp1.000–Rp2.000 per kilogram, serta terbatasnya akses pasar menyebabkan hasil produksi belum sepenuhnya terserap. Meski demikian, ditemukan praktik inovasi lokal di mana hampir setiap rumah tangga memiliki peralatan sederhana untuk mengolah garam krosok menjadi garam konsumsi, sebagai upaya meningkatkan nilai tambah. Keberadaan K-SIGN diharapkan dapat menjadi solusi strategis dalam penyerapan garam krosok sekaligus memperbaiki kesejahteraan petambak.
Sementara itu, di Desa Matasio, antusiasme masyarakat terhadap pengembangan K-SIGN terlihat sangat kuat. Masyarakat memandang proyek ini sebagai peluang besar dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi lokal. Komitmen masyarakat untuk mempertahankan kepemilikan tanah juga mencerminkan harapan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara berkelanjutan hingga generasi mendatang. Namun demikian, masyarakat menyampaikan kebutuhan akan pelatihan dan pendampingan teknis di bidang pergaraman, mengingat sebagian besar penduduk memiliki latar belakang utama sebagai petani.
Selain berdialog dengan masyarakat, Tim PSEKUIN dan Bank Indonesia juga meninjau langsung lahan yang direncanakan menjadi kawasan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN). Saat ini, lahan tersebut masih berupa hamparan tanah datar yang telah melalui tahap ground breaking, dengan harapan pembangunan kawasan industri garam dapat diselesaikan pada akhir tahun. Kehadiran K-SIGN diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri garam nasional, meningkatkan nilai tambah komoditas garam, serta mendorong kesejahteraan masyarakat Kabupaten Rote Ndao secara berkelanjutan.